1.4.12

Sebuah Perenungan

Hanya enam puluhan tahun jatah jasad ini berkeliaran di bumi. Ada yang lebih dari itu, tetapi yang kurang dari usia enam puluhan pun juga banyak yang kembali dipanggil-Nya. Mati, kita bisa menyebutnya.
Ketika anak Adam sudah berbaring menghadap kiblat, sementara tubuhnya hanya dibalut kain kafan putih, ketika itu tak ada lagi harapan datangnya pertolongan dari sekedar orang terdekat. Kesempatan beramal habis, sedang timbangan amal diragukan; bisakah melampaui berat sebelah sayap nyamuk?
Satu demi satu para pelayat yang mengantar jenazah pulang meninggalkan kuburan. Satu jam kemudian semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Di antara yang mengantarkan tubuh itu ada yang dengan tersenyum karena segera beroleh warisan. Yang lain cerita karena rivalnya sudah tiada. Yang lain senang karena tidak ada orang lagi yang menghalang-halangi keinginannya. Yang lain... yang lain...
Seperseribu detik berikutnya, ruh dikembalikan ke jasad, dan malaikat penjaga kubur datang tanpa ba bi bu langsung memukul, menggebuk, menendang dan ...ah tubuh terasa hancur, sakit tiada terperi. Berulang derita, bertubi-tubi menimpa diri seakan tak ada kehidupan padahal jelas jasad dihidupkan lagi.
Jeritan, teriakan minta tolong tidak digubris sama sekali oleh makhluk kekar menakutkan itu. Ratapan tak bermakna, rintihan tak berarti malah menambah dahsyatnya siksa yang menimpa. Mungkinkah peristiwa di atas menimpa kita kelak? Jawabnya berpulang kepada diri masing-masing.
Rambut yang mulai berubah, kulit keriput tampak menyeruak, tenaga menyusut setiap harinya. Ya itulah sebagian tanda-tanda senja sudah datang. Tak perlu berlama-lama mencari waktu yang tepat untuk menangisi kesempatan yang telah hilang. Sekarang. Ya, sekarang kita mulai dari sini.
Setiap hari kita menangis karena amal sholeh kita sedikit. Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa makna. Main, senda gurau, bersantai ria, tidur...... Seakan mewarnai hari-hari dulu yang sudah dilalui.
Benar, banyak amal yang dulu telah dikerjakan. Banyak pula orang menikmatinya. Namun niatnya tidak karen Allah SWT. Amal itupun tidak jadi sholeh. Kini kehampaan yang melanda. Ya, kita harus segera bangkit. Merubah niat.
Untung masih ada secercah asa. Masih ada kesempatan menjadi orang sholeh di sisa-sisa usia. Dan masih ada harapan besar lepas dari peristiwa-peristiwa dahsyat saat maut menjeput, serta huru-hara sesudahnya.

--Semoga Bermanfaat--